2021-01-04

Mengenal Ragam Pemupukan untuk Lahan Pertanian

BPTP JAMBI
...

KOTA JAMBI - Mengawali tahun 2021, BPTP Balitbangtan Jambi melakukan aktivitas media elektronik melalui siaran Kiprah Indonesia yang dilaksanakan secara live di RRI Pro 1 Jambi FM 88,50 Mhz interview by phone pada hari Senin, 4 januari 2021 pukul 19.30-20.00 WIB dengan topik ragam pemupukan di lahan pertanian, dengan narasumber Peneliti Ahli Muda BPTP Jambi Hendri Purnama SP., M.Si. Siaran ini juga dapat didengar secara live streaming melalui RRIplayGo

Berbicara tentang kesuburan lahan pertanian, kita tidak dapat lepas dari pemupukan. Pupuk dan proses pemupukan merupakan bagian tidak terpisahkan dari keberadaan dunia pertanian. Disebabkan aktivitas pertanian yang berlangsung secara terus-menerus, maka pengembalian ketersediaan hara dan kesuburan tanah menjadi suatu kebutuhan. Ruang lingkup yang akan kita bicarakan disini yaitu beberapa ragam pemupukan yang ada, ragam pemupukan ini diambil dari pola dan kebiasaan yang berkembang di masyarakat dan telah terbukti manfaatnya bagi tanah dan tanaman.

Hal yang menjadi dasar sebelum kita melakukan pemupukan pada lahan pertanian yaitu kita harus mengetahui terlebih dahulu nilai pH (kemasaman) lahan/tanah tersebut, karena dengan mengetahui nilai pH tanah kita bisa menentukan langkah apa yang akan kita lakukan sebelum melalukan pemupukan. Jika pH tanah ternyata rendah maka kita harus menaikkan pH tanah terlebih dahulu, hal ini karena kemasaman tanah dapat menjadi kendala utama tercapainya produksi optimal tanaman. pH tanah yang terlalu rendah menyebabkan tidak tersedianya unsur hara tanaman di dalam tanah, seperti hara P, K, Ca, Mg dan unsur mikro yang menyebabkan tanaman dapat kahat unsur hara sehingga hasil tanaman tidak optimal.

Petani yang tidak memiliki pH meter juga bisa mengukur tingkat keasaman tanah secara manual, pendekatan yang paling utama salah satunya yaitu dengan menggunakan parameter tanaman yang tumbuh dan berkembang pada suatu lahan antara lain yaitu :

1. Menggunakan Indikator Tanaman Liar.

Tanaman liar dapat dijadikan sebagai indikator paling sederhana untuk mengetahui apakah tanah bersifat asam atau basa. Salah satu tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai indikator adalah harendong (Melastoma malabathricum). Jika suatu lahan banyak terdapat tanaman liar ini, berarti tanah pada lahan tersebut memiliki kadar pH yang rendah.

2. Menggunakan indikator kunyit.

Langkah mengukur keasaman tanah dengan kunyit:

  • Sediakan rimpang kunyit seukuran jempol lalu potong jadi 2 bagian.
  • Ambil sampel tanah dari 5 titik berbeda. Empat titik dari ujung lahan dan satu titik dari tengah lahan. Masukkan semuanya ke dalam satu wadah, siram air secukupnya, lalu aduk hingga merata.
  • Masukkan 1 bagian rimpang kunyit ke dalam adonan tanah dan biarkan hingga 30 menit.
  • Jika warna kunyitnya , maka tanah bersifat 4 (pH rendah) dan sebaliknya jika kunyit , maka tanah bersifat netral.

3. Menggunakan indikator kubis merah.

Cara mengukur keasaman tanah dengan kubis merah:

  • Ambil bagian kepala kubis merah lalu potong hingga halus.
  • Didihkan air destilasi murni.
  • Masukkan irisan kubis merah ke dalam air destilasi yang mendidih lalu biarkan terendam hingga 10 menit.
  • Saring rendaman kubis merah tersebut. Warna airnya yang ungu berarti pH-nya netral.
  • Uji sampel tanah yang telah diambil dari lahan.
  • Tuangkan beberapa inchi air destilasi tadi ke dalam 2 cangkir yang berbeda, lalu masukkan 2 sendok tanah.
  • Biarkan selama 30 menit.

Jika warna airnya tidak berubah, maka tanah bersifat netral. Jika airnya berwarna merah muda, maka tanahnya asam. Jika airnya berwarna biru/hijau, maka tanah bersifat basa.

Setelah kita mengetahui nilai pH tanah, maka langkah selanjutnya yaitu meningkatkan nilai pH tanah apabila pH tanah tersebut rendah, hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan kapur (dolomit) ke lahan tersebut. Setelah itu kita melakukan pemupukan apabila tingkat hara tanah pada suatu lahan rendah, hal ini dilakukan untuk meningkatkan hara tanah sehingga sesuai dengan tingkat kebutuhan tanaman. Selain melakukan pemupukan secara kimia sangat dianjurkan untuk melakukan pemupukan secara organik. Untuk dapat dikatakan sebagai pupuk organik ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sesuai dengan SNI dan Permentan No. 1 tahun 2019.

Pembuatan pupuk organik harus sesuai dengan prosedur dan harus ada pemeriksaan lebih lanjut sebelum pupuk organik tersebut siap diaplikasikan ke dalam tanah. Ciri-ciri pupuk organik yang sudah siap diaplikasikan yaitu tidak berbau, warnanya gelap kehitam-hitaman, mudah hancur, dan jika dipegang terasa dingin.

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitar kita untuk memenuhi kebutuhan hara tanah dan tanaman selain melalui pemupukan. Bahan-bahan ini kita namakan bahan pembenah tanah. Pembenah tanah adalah bahan-bahan sintetis atau alami, organik atau mineral berbentuk padat atau cair yang mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan/atau biologi tanah. Formula pupuk (formula) adalah kandungan senyawa dari unsur hara utama dan/atau unsur hara mikro dan mikroba.

Pembenah tanah ini yang berada di sekitar kita antara lain: kotoran ternak, jerami padi, kapur, zeolit, biochar, serbuk gergaji dan lain-lain. Selain itu kita juga dapat memanfaatkan bahan-bahan baku yang berasal dari limbah rumah tangga seperti air rebusan telur, air rebusan sayur, air kelapa, air cucian beras, dan air rendaman kulit bawang. (hp)

Sub Sektor : Lain-Lain
Komoditas : Lain-Lain
Teknologi yang Digunakan :